Berkeringat, Sehat Asal Tak Berlebihan

Kompas - Sabtu, Januari 31

Berkeringat itu sehat, tapi hati-hati jika berlebihan. Bisa menimbulkan bau tak sedap bahkan tanda adanya penyakit.

Walau kadang merepotkan, keringat amat penting sebagai termoregulasi atau pengatur suhu badan kita. Fungsi lainnya adalah menjaga keasaman kulit sehingga bakteri dan jamur tidak mudah tumbuh. Dalam tubuh manusia, terdapat dua hingga empat juga kelenjar keringat. Pada pria, jumlah kelenjar keringat yang aktif lebih banyak dibanding wanita, itu sebabnya mereka berkeringat dua kali lebih banyak.

Menurut dr. Hanny Nilasari, Sp.KK, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pada dasarnya ada dua penyebab manusia berkeringat, yakni physical sweat dan emotional sweat. "Physical sweat adalah keringat karena panas akibat suhu atau kegiatan fisik, sedangkan emotional sweat adalah ekringat yang muncul karena perubahan tingkat adrenalin saat seseorang merasa tertekan, takut, atau cemas, meski dalam suhu dingin," ujar Hanny.

Normalnya tubuh kita mengeluarkan keringat dua hingga tiga liter per hari. Kondisi keringat yang berlebih disebut juga dengan hiperhidrosis. Keringat berlebihan bisa terjadi di tangan (hiperhidrosis palmaris), ketiak (hiperhidrosis aksilaris) atau di telapak kaki (hiperhidrosis plantaris). "Hiperhidrosis biasanya dihubungan dengan kelainan sistemik atau aktivitas hormon yang berlebih," ujar Hanny.

Beberapa penyakit yang menyertai hiperhidrosis di antaranya adalah hipertiroid atau kelainan di batang otak. "Sejauh ini belum ada penelitian yang membuktikan keringat berlebih di tangan merupakan tanda penyakit paru-paru basah atau lemah jantung," kata Hanny.

Keringat yang berlebihan tentu saja menggangu kenyamanan dan rasa percaya diri. Keringat berlebih bisa dikurangi dengan antiperspiran untuk mengurangi aktivitas kelenjar keringat. Namun antiperspiran yang dipakai berbentuk obat yang dioleskan. "Bukan seperti yang dijual bebas di pasaran," tandas Hanny.

Pada kasus yang lebih berat, dokter akan melakukan tindakan invasif untuk mengatasi keringat berlebih, misalnya operasi pengangkatan kelenjar keringat, obat hormonal, suntik botox, atau iontophoresis, yakni melumpuhkan kelenjar keringat dengan arus listrik pada daerah tertentu.




Read More..





Read More..

Menemukan Kedamaian Islam di Balik Jilbab


Sara Bokker, dulunya adalah seorang model, aktris, aktivis dan instruktur fitness. Seperti umumnya gadis remaja Amerika yang tinggal di kota besar, Bokker menikmati kehidupan yang serba gemerlap. Ia pernah tinggal di Florida dan South Beach, Miami, yang dikenal sebagai tempat yang glamour di Amerika. Kehidupan Bokker ketika itu hanya terfokus pada bagaimana ia menjaga penampilannya agar menarik di mata orang banyak.

Setelah bertahun-tahun, Bokker mulai merasakan bahwa ia selama ini sudah menjadi budak mode. Dirinya menjadi "tawanan" penampilannya sendiri. Rasa ingin memuaskan ambisi dan kebahagian diri sendiri sudah mengungkungnya dalam kehidupan yang serba glamour. Bokker pun mulai mengalihkan kegiatannya dari pesta ke pesta dan alkohol ke meditasi, mengikuti aktivitas sosial dan mempelajari berbagai agama.

Sampai terjadilah serangan 11 September 2001, dimana seluruh Amerika bahkan diseluruh dunia mulai menyebut-nyebut Islam, nilai-nilai Islam dan budaya Islam, bahkan dikait-kaitkan dengan deklarasi "Perang Salib" yang dilontarkan pimpinan negara AS. Bokker pun mulai menaruh perhatian pada kata Islam.

"Pada titik itu, saya masih mengasosiasikan Islam dengan perempuan-perempuan yang hidup di tenda-tenda, pemukulan terhadap istri, harem dan dunia teroris. Sebagai seorang feminis dan aktivis, saya menginginkan dunia yang lebih baik bagi seluruh umat manusia," kata Bokker seperti dikutip dari Saudi Gazette.

Suatu hari, secara tak sengaja Bokker menemukan kita suci al-Quran, kitab suci yang selama ini pandang negatif oleh Barat. "Awalnya, saya tertarik dengan tampilan luar al-Quran dan saya mulai tergelitik membacanya untuk mengetahui tentang eksistensi, kehidupan, penciptaan dan hubungan antara Pencipta dan yang diciptakan. Saya menemukan al-Quran sangat menyentuh hati dan jiwa saya yang paling dalam, tanpa saya perlu menginterpretasikan atau menanyakannya pada pastor," sambung Bokker.

Akhirnya, Bokker benar-benar menemukan sebuah kebenaran, ia memeluk Islam dimana ia merasa hidup damai sebagai seorang Muslim yang taat. Setahun kemudian, ia menikah dengan seorang lelaki Muslim. Sejak mengucap dua kalimat syahdat Bokker mulai mengenakan busana Muslim lengkap dengan jilbabnya.

"Saya membeli gaun panjang yang bagus dan kerudung seperti layaknya busana Muslim dan saya berjalan di jalan dan lingkungan yang sama, dimana beberapa hari sebelumnya saya berjalan hanya dengan celana pendek, bikini atau pakaian kerja yang 'elegan'," tutur Bokker.

"Orang-orang yang saya jumpai tetap sama, tapi untuk pertama kalinya, saya benar-benar menjadi seorang perempuan. Saya merasa terlepas dari rantai yang membelenggu dan akhirnya menjadi orang yang bebas," Bokker menceritakan pengalaman pertamanya mengenakan busana seperti yang diajarkan dalam Islam.

Setelah mengenakan jilbab, Bokker mulai ingin tahu tentang Niqab. Ia pun bertanya pada suaminya apakah ia juga selayaknya mengenakan niqab (pakaian muslimah lengkap dengan cadarnya) atau cukup berjilbab saja. Suaminya menjawab, bahwa jilbab adalah kewajiban dalam Islam sedangkan niqab (cadar) bukan kewajiban.

Tapi satu setengah tahun kemudian, Bokker mengatakan pada suaminya bahwa ia ingin mengenakan niqab. "Alasan saya, saya merasa Allah akan lebih senang dan saya merasa lebih damai daripada cuma mengenakan jilbab saja," kata Bokker.

Sang suami mendukung keinginan istrinya mengenakan niqab dan membelikannya gaun panjang longgar berwarna hitam beserta cadarnya. Tak lama setelah ia mengenakan niqab, media massa banyak memberitakan pernyataan dari para politisi, pejabat Vatikan, kelompok aktivis kebebasan dan hak asasi manusia yang mengatakan bahwa niqab adalah penindasan terhadap perempuan, hambatan bagi integrasi sosial dan belakangan seorang pejabat Mesir menyebut jilbab sebagai "pertanda keterbelakangan."

"Saya melihatnya sebagai pernyataan yang sangat munafik. pemerintah dan kelompok-kelompok yang katanya memperjuangkan hak asasi manusia berlomba-lomba membela hak perempuan ketika ada pemerintah yang menerapkan kebijakan cara berbusana, tapi para 'pejuang kebebasan' itu bersikap sebaliknya ketika kaum perempuan kehilangan haknya di kantor atau sektor pendidikan hanya karena mereka ingin melakukan haknya mengenakan jilbab atau cadar," kritik Bokker.

"Sampai hari ini, saya tetap seorang feminis, tapi seorang feminis yang Muslim yang menyerukan pada para Muslimah untuk tetap menunaikan tanggung jawabnya dan memberikan dukungan penuh pada suami-suami mereka agar juga menjadi seorang Muslim yang baik. Membesarkan dan mendidik anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang berkualitas sehingga mereka bisa menjadi penerang dan berguna bagi seluruh umat manusia."

"Menyerukan kaum perempuan untuk berbuat kebaikan dan menjauhkan kemunkaran, untuk menyebarkan kebaikan dan menentang kebatilan, untuk memperjuangkan hak berjilbab maupun bercadar serta berbagi pengalaman tentang jilbab dan cadar bagi Muslimah lainnya yang belum pernah mengenakannya," papar Bokker.

Ia mengungkapkan, banyak mengenal muslimah yang mengenakan cadar adalah kaum perempuan Barat yang menjadi mualaf. Beberapa diantaranya, kata Bokker, bahkan belum menikah. Sebagian ditentang oleh keluarga atau lingkungannya karena mengenakan cadar. "Tapi mengenakan cadar adalah pilihan pribadi dan tak seorang pun boleh menyerah atas pilihan pribadinya sendiri," tukas Bokker.

(eramuslim.com)

Read More..

Kapankah Kelalaian Ini Berakhir

Saat ini kebanyakan manusia hidup dalam kelalaian yang nyata dari (mengingat) Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan kampung akhirat. Dunia dan seluruh perhiasannya telah menjebak umat manusia, angan-angan tak karuan sudah menipunya, dan mereka telah disetir oleh keinginan-keinginan jelek, setan serta hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada perbuatan tercela, namun dengan ini semua diri masih mengira bahwa telah berbuat sebaik-baiknya perbuatan.

Sesungguhnya ghaflah (lalai, terlena) adalah racun yang sangat mematikan, dan penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai hati, merasuk mencengkram jiwa, serta menawan/melumpuhkan angota badan.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya: “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS: Al Anbiyaa’: 1)

Mayoritas manusia dalam keadaan lalai
Al Imam Ibnu Al Qayyim rahimahulloh berkata: Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya –kecuali sedikit saja- merupakan golongan orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Alloh Subhanahu wa Ta’ala, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemashlahatan baginya, sedang mereka menyibukan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman-walaupun kamu sangat menginginkannya.” (QS: Yusuf: 103) Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh” (QS: Al An’am: 116) Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS: Yunus: 92)

Namun apakah lalainya kebanyakan manusia dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan dari hari kemudian itu merupakan hujjah bagi orang-orang yang lengah dan suka main-main? Sama sekali tidak…..Itu bukan hujjah bagi mereka, bahkan menjadi hujjah atas mereka, karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para Rasul, mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala saja yang tidak ada sekutu baginya, dan meninggalkan jalan-jalan kelengahan dan kesesatan, begitu juga Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan kitab-kitab yang di dalamnya mengandung peringatan dari sikap lalai dan semua pintu-pintunya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hati-mu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS: Al ‘Araf: 205)

Al Imam Abu Muhammad Al Qushariy berkata: Sungguh Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah melarang manusia berbuat lalai, dan Dia telah memerintahkan agar selalu mengingat-Nya setiap saat, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS: Al-Ahzab: 41) Dan berfirman, yang artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring” (QS: Ali Imran: 191)

Siksa bagi orang yang lalai
Orang-orang yang lalai mendapatkan sangsi di dunia dan sangsi di akhirat, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ummat Nabi Musa tatkala mereka mendustakan dan menyakitinya, yang artinya: “Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggalamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.” (QS: Al-A’raf: 136)

Dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan neraka Jahannam –yaitu tempat siksaan di akhirat– sebagai tempat kembali dan tempat tinggal bagi orang-orang yang lalai, Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manuia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunaknnya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS: Al-A’raf: 179)

Ayat ini menjelaskan bahwa tempat akhir orang-orang yang lalai adalah Jahannam disebabkan mereka memiliki hati, namun hatinya sangat keras, tidak pernah tersentuh dan terenyuh, serta tidak tergerak sedikitpun dengan mau’idhah (wejangan), dia bagaikan batu, bahkan lebih keras. Mereka memiliki mata yang mampu melihat pemandangan dhahir (luar) segala sesuatu, namun tidak mampu melihat dengannya hakikat segala urusan, dan tidak mampu dengannya membedakan antara yang bermanfaat dengan yang membahayakan.

Dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka mendengarkan suara-suara kebatilan, seperti dusta, nyanyian, kata-kata kotor, ghibah, dan namimah, dan mereka tidak mengambil manfaat dengannya dalam mendengarkan hal yang benar dan jujur yang berupa kitab Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya ialah neraka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS: Yunus: 7- 8)

Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang adzab orang-orang yang lalai di Jahannam, yang artinya: “Dan telah dekat kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata), “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Alloh, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (QS: Al Anbiya: 97-9 8)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga memberitahukan bahwa kelalaian itu bila telah menguasai hati menyebabkan seseorang ridla dengan kekufuran, dadanya merasa tenteram dengannya, pintu-pintu hidayah tertutup, dan terkuncilah hati itu, wal ‘iyadzu billah, sehingga taubat dan hidayah sangat sulit tercapai, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Alloh tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatan-nya telah dikunci mati oleh Alloh, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS: An Nahl: 106-10 8)

Lalai sebab segala kejelekan
Al Imam Ibnu Al Qayyim berkata: Dan lalai dari (mengingat) Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan hari kemudian bila berpasangan dengan mengikuti hawa nafsu maka terlahirlah dari keduanya segala macam keburukan, dan umumnya bergabung antara keduanya dan tidak pernah terpisahkan. Barang siapa memperhatikan kerusakan situasi alam ini, secara umum maupun khusus maka dia bakal mendapatkannya sebagai akibat dari kedua hal ini.

Kelalaian menjadi penghalang antara seseorang dengan kemampuan memandang kebenaran, mengetahuinya, dan memahaminya, sehingga ia termasuk dalam jajaran orang-orang yang sesat.

Tanda-tanda lalai
Saudaraku tercinta, lalai itu memiliki banyak tanda, dikala kita melihat salah satunya ada dalam diri kita, maka ketahuilah sesungguhnya kita dalam bahaya, cepatlah koreksi diri, kejarlah ketinggalan, dan mulailah menanggulangi tanda-tanda ini dengan cara-cara yang disyari’atkan agar kita mampu melepaskan diri dari cengkaramannya sepanjang masa. Dan di antara-tanda itu adalah:

  1. Menyekutukan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dan inilah fenomena kelalaian yang paling besar.

  2. Kufur, fasiq, dan nifaq.

  3. Melakukan perbuatan-perbuatan keji, seperti zina, sodomi, minum-minuman keras, dan lain sebagainya.

  4. Menyia-nyiakan shalat, dan menyepelekan waktu-waktunya, serta (meninggalkan)mendirikannya secara berjamaah di mesjid.

  5. Sedikit mengingat Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

  6. Sedikit membaca Al Qur’an.

  7. Meninggalkan berdoa, dan berlindung kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

  8. Mencintai dunia, dan menyibukan diri untuk mengumpulkannya dengan berbagai cara.

  9. Tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, baik dalam hal pakaian, cara hidup, dan penampilan.

  10. Berteman dengan orang-orang jahat, dan orang yang tidak mau mengingatkannya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

  11. Menyia-nyiakan waktu dalam hal yang bukan termasuk ketaatan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

  12. Terlalu banyak makan, minum, tidur, dan bergaul, karena itu semua menyebabkan rusaknya hati dan malasnya anggota badan dari melaksanakan berbagai macam ketaatan.

  13. Mendengarkan lagu-lagu, dan menonton siaran parabola yang beracun.

  14. Tidak hati-hati dalam segala hal yang berkaitan dengan halal dan haram.

  15. Melanggar keharaman-keharaman yang nampak, seperti mempergunakan narkoba, merokok, laki-laki mengisbalkan pakaiannya dan mencukur jenggot, wanita ber-tabarruj dan keluar dengan bersolek serta memakai wangi-wangian, dan lain sebagainya.

(Sumber Rujukan: Nasrah Darul Wathan, “Ila mata al ghaflah”)

Read More..

Metode Mengajar Yang Jitu

Setiap Guru hendaknya menempuh metode pendidikan yang jitu sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Al Qur’anul karim dan as Sunnah Nabawiyah, karena para guru ikut berpartisipasi dalam menyiapkan generasi muslim pada masa yang akan datang. Harapan kita adalah hadirnya generasi muslim yang dengan aqidah yang lurus, tangguh, berakhlaq mulia, yang bersih dan berani dalam rangka membela agama dan ummatnya.

Adapun metode jitu yang InsyaAlloh dapat diupayakan oleh para guru dalam mendidik generasi muda muslim adalah sebagai berikut:

Menanamkan Rasa Takut (khauf) dan berpengharapan (raja’)
Para guru harus menanamkan rasa takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala ke dalam jiwa anak-anak didiknya sebab Alloh Subhanahu wa Ta’ala sangat hebat siksanya kepada orang-orang yang durhaka kepadanya. Yaitu Orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang diwajinkanNya. Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ancaman terhadap orang-orang yang durhaka (maksiat), bahwa mereka akan dibakar didalam neraka pada hari kiamat, padahal neraka jauh lebih panas dari pada api di dunia.

Tetapi sebaliknya Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan kepada kaum mu’minin yang taat menjalankan kewajibannya, memenuhi hak-haknya Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan surga yang luas. Di dalamnya terdapat sungai-sungai, pohon-pohon, buah-buahan, bidadari-bidadari cantik dan berbagai kenikmatan di dalamnya.

Dalil bagi adanya keterpaduan antara rasa khauf (takut) dan raja’ (pengharapan), serta rasa senang dan cemas.

Kisah-Kisah
Kisah mempunyai pengaruh yang kuat terhadap jiawa, maka seorang pendidik selayaknya memperbanyak kisah-kisah yang bermanfaat. Dan itu banyak sekali terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah yang suci. Diantaranya:

        • Kisah Ashabul Kahfi (penghuni surga), bertujuan untuk membentuk generasi yang beriman kepada Allah, cinta kepada tauhid dan benci kepada kemusyrikan.

        • Kisah Nabi Isa , bertujuan unutk menjelaskan bahwa ia adalah hamba Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan bukan Anak Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebagaiman anggapan kaum nasrani.

        • Kisah Yusuf, diantara tujuannya adalah untuk mengingatkan agar jangan sampai terjadi pergaulan campur aduk antara laki-laki dan perempuan sebab akan memberi akibat yang sangat jelek

    • Kisah Yunus, bertujuan agar kita selalu beristianah (meminta pertolongan) hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala saja, lebih-lebih ketika di timpa musibah. Kisah orang-orang yang terperangkap dalam gua. Diambil hikmahnya yaitu agar kita hanya bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalehnya. Seperti membantu orang tua, menjauhi zina karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dll.

Singkat kata , sebagai seorang guru harus mampu memberi teladan yang baik diantara dengan memberi kisah-kisah yang mulia dan jangan justru memberi kisah-kisah yang jelek yang memacu anak didik untuk berbuat tidak baik.

Read More..

Perpecahan dan Kehancuran Umat

Perpecahan dan kehancuran sering ditimbulkan karena seseorang atau sekelompok orang tidak mampu untuk memahami kaidah-kaidah Islam dalam berselisih pendapat. Yang dimaksud di sini adalah mengenal hukum-hukum berbeda pendapat antara dua orang muslim atau lebih dan efek yang timbul di balik itu. Mana saja yang boleh diperselisihkan dan mana yang tidak. Jika ada seseorang menyelisihi, bilakah penyelisihannya itu dapat ditolerir? Bilakah kita boleh memvonisnya kafir atau fasik? Apakah vonis seperti itu boleh dijatuhkan oleh siapa saja dan kapan saja?

Banyak sekali orang yang tidak mengetahui perincian masalah tersebut. Bahkan ditambah lagi akibat tidak adanya pemahaman dan pengamalan yang benar tentang adab Islam yang shohih, tidak sedikit diantara kita yang merasa yakin kita benar namun dalam upaya dakwah atau penjelasan kepada orang lain sering menggunakan istilah-istilah atau intonasi yang kotor dan “kurang pada tempatnya”. Sangat sering dari sinilah muncul perpecahan yang seharusnya tidak terjadi, bahkan menjatuhkan kemulian sebuah kebenaran dan menyebabkan kehinaan karena kelemahan orang-orang yang merasa kuat dan benar tersebut. bagaimanakah dengan kita?????

Di kutip dari Akibat Kurang Memahami Kaidah Berselisih Pendapat


Read More..

Al Qur’an, dan Fakta Medis

Sungguh banyak
ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang pengobatan. Karena bagaimanapun juga,
selain sebagai pegangan hidup, al Qur’an diturunkan sebagai penawar dan rahmat
bagi orang-orang mukmin,

Dan kami
turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim
selain kerugian. (QS.17:82
)

(yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(QS.13:28)

Beberapa ahli
tafsir menyatakan bahwa nama lain al Qur’an adalah asy syifaa’ yang artinya
secara bahasa adalah obat penyembuh.

Hai
manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS.10:57)

Selain
menerangkan pengobatan, al Qur’an juga menceritakan tentang keindahan alam
semesta yang bisa kita jadikan sebagai sumber untuk membuat obat-obatan, subhanAllaah.

Dia
menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur
dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS.16:11)

Kemudian
makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang
Telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang
bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS.16:69)

Sangatlah
jelas apa yang diterangkan al Qur’an, sehingga orang yang merenungi ayat-ayat
diatas pastilah akan merasakan ketenangan jiwa ketika membaca al Qur’an. Selain
itu, pegangan kita sebagai seorang muslim adalah al Hadits, banyak pula hadits
Rasulullaah saw yang menerangan keutamaan membaca, menghafalkan, bahkan
mempelajari al Qur’an.

“Sebaik-baik
kalian adalah orang yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya” (HR.
Bukhari)

“Siapa saja
yang disibukkan oleh al Qur’an dalam rangka berzikir kepadaKu, dan memohon
kepadaKu, niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang
telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaannya Kalam
Allah daripada seluruh kalam selainNya, seperti keutamaan Allah atas
makhlukNya” (HR. at Tirmidzi)

“Tidaklah
suatu kaum berkumpul disalah satu ‘rumah’ (masjid) Allah, mereka membaca al
Qur’an dan mempelajarinya, kecuali turun kepada
mereka ketenteraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat menaungi mereka
dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada disisiNya” (HR. Muslim)

“Hendaklah
kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan al Qur’an” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu
Mas’ud)

Sungguh, masih
banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit bisa disembuhkan
dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat al Qur’an.

Syaikh Ibrahim
bin Ismail dalam karyanya Ta’lim al Muta’alim (sebuah kitab yang mengupas tata
krama mencari ilmu) menyatakan, “Terdapat beberapa hal yang menyebabkan
seseorang kuat ingatan dan hafalannya. Diantaranya, menyedikitkan makan,
membiasakan melaksanakan ibadah shalat malam, dan membaca al Qur’an sambil
melihat kepada mushaf.”
Selanjutnya, ia berkata, “Tak ada lagi bacaan
yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada
seseorang kecuali membaca al Qur’an.”

Malik Badri
melaporkan hasil penelitian Al Qadi di Florida, Amerika
Serikat. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa hanya dengan mendengarkan
bacaan al Qur’an, seorang muslim, baik mereka yang berbahas Arab mauppun yang
bukan, mampu merasakan perubahan fisiologis yang besar, seperti penurunan
depresi, kesedihan, bahkan dapat memperoleh ketenangan dan menolak berbagai
macam penyakit. Penemuan Al Qadi ini diperoleh dengan bantuan peralatan
elektronik mutakhir untuk mendeteksi detak jantung, ketahanan otot, dan
ketahanan kuit terhadap aliran listrik. Penemuan ini menunjukkan bahwa bacaan
al Qur’an berpengaruh besar (hingga 97%) dalam memberikan ketenangan dan
penyembuhan penyakit.

Kesimpulan
hasil uji coba tersebut diperkuat oleh penelitian Muhammad Salim yang
dipublikasikan oleh UniversitasBoston

. Objek penelitiannya
terhadap

lima

orang sukarelawan yang terdiri dari tiga pria dan dua wanita. Kelima orang
tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi
tahu bahwa yang akan diperdengarkan adalah al Qur’an.

Penelitian
yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan al
Qur’an secara tartil, dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari al Qur’an.
Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan
bacaan al Qur’an dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan
bahasa Arab yang bukan dari al Qur’an.

Al Qur’an juga
memberikan pengaruh yang besar jika diperdengarkan kepada bayi, daripada
memperdengarkan dengan musik klasik. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati
dariMalaysia

dalam “Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam” di

Malaysia

pada tahun 1997. Menurut peneltiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya
diperdengarkan ayat-ayat al Qur’an dari tape recorder menunjukkan respon
tersenyum dan menjadi lebih tenang, subhanAllah.

Kenapa bisa
demikian? Ternyata ada keterkaitan yang sangat erat antara meditasi dengan al
Qur’an,seperti dalam sebuah makalah Ustadz Yusri “Meditasi dengan al
Qur’an”.

Selama ini,
praktik meditasi dalam ritual keagamaan seolah-olah hanya ada pada ajaran agama
Budha. Padahal, meditasi juga pernah dilakukan Rasulullaah saw dengan
kepribadian Islam tersendiri, baik ketika beliau sebelum maupun sesudah
diangkat menjadi nabi dan rasul, yang pada saat itu disebut dengan berkhalwat
dan tahannuts.
Beliau melakukan meditasi di Gua Hira, ketika menghadapi masalah
yang menimpa diri dan umatnya.

Fakta bahwa
meditasi bisa mengurangi kecemasan, juga telah diselidiki oleh para sarjana
Barat, seperti pada penyelidikan Zen Meditation, dan kemudian pada
penyelidikan Trancendental Meditation. Tetapi, kajian di Barat juga
telah membuktikan 33% hingga 50% mereka yang melakukan meditasi tanpa teknik
yang betul akan mengalami peningkatan dalam tekanan darah, stres, kemurungan
serta mudah marah. Oleh karena itu, jika benar-benar ingin mendalami meditasi,
pastikan kita dilatih oleh mereka yang benar-benar mahir dan berpengalaman
serta mampu memberi penjelasan untuk setiap keadaan. Atau ikuti langkah kedua:
meditasi ala Islam.

Dalam meditasi
Islam (meditasi dengan al Qur’an), perkara yang harus diperhatikan ialah
bagaimana mereka dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang memberikan sense
of direction
, yang ujungnya mampu mengatasi berbagai masalah,serta
meningkatkan produktivitas dan kesehatan.

Lalu, seperti
apa meditasi dengan al Qur’an itu?

Ustadz Yusri
menjelaskan, Kitab ini tentu saja bukanlahsebuah buku sains ataupun buku
kedokteran. Al Qur’an menyebut dirinya sebagai “penyembuh penyakit”,
yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa
manusia pada kesehatan spiritual, psikologis, dan fisik.

Kesembuhan
menggunakan al Qur’an dapat dilakukan dengan membaca, berdekatan dengannya, dan
mendengarkannya. Allah swt menjelaskan:

Dan apabila
dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan
tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. 7:204)

Salah satu
unsur yang dapat dikatakan dikatakan meditasi dalam al Qur’an adalah
autosugesti, dan hukum-hukum bacaan (tajwid, seperti waqof dan yang
lainnya).

Autosugesti
sebagai olah ketenangan, sedang waqof dan hukum bacaan lainnya adalah
olah pernafasan. Jarang seorang Muslim berpikir kenapa setiap kali selesai
tilawah (membaca al Qur’an), tahu-tahu jiwa dan raga menjadi lebih enak. Ya,
karena tajwid, waqof, memang diatur sesuai fitrah manusia. Maka, Maha
Suci Allah, itulah efek yang sesuai dengan sunnatullaah, bisa didapat tanpa
orang memahaminya, karena bersifat tindakan, melalui bacaan atau tindakan.
Bisakah kita melakukan meditasi seperti ini dengan aman, melalui bacaan atau
tindakan selain al Qur’an?

Masih ingat
Musailamah al Kadzab, sosok yang membuat syair tentang gajah dan katak, lalu
dinyatakannya sebagai penanding al Qur’an? Sampai sekarang jika kita
membacanya, bukan hanya lisan, hati pun akan tertawa. Itulah makna tantangan
dari Allah swt.

Bahkan
mereka mengatakan: “Muhammad Telah membuat-buat Al Quran itu”,
Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang
dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup
(memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.
(QS. 11:13)

Karena, al
Qur’an efeknya memang global dan sempurna, selain tata bahasa yang tanpa cela
(indah jika kita memahami bahasa Arab), juga efeknya subhanAllaah….

Indahnya
membaca al Qur’an, “surat cinta” dari Sang Maha pencipta, Allah!

Semoga
bermanfaat untuk diri penulis, dan juga ikhwah fillah yang mengambil kebaikan
darinya, Allaahumma aaamiin.

Read More..